Thursday, September 1, 2016

Welcome, Sept!

*still in da mood of Karin's big day*

Heiho! Jadi ceritanya hari ini adalah hari pertama di bulan September 2016. Yap, sudah sampai juga akhirnya ke bulan-bulan yang mulai beneran hectic tahun akhir. Mahasiswa tingkat akhir beneran, bener bener akhir 😂

Mahasiswa akhir identik dengan apa? Yak! Skripsweet. Tapi di jurusanku namanya PPK. And now I feel so close to that task, so zaaaad. Tapi gaboleh sedih ding, kudu dijalani (padahal belum) (penel aja belum).

Ngomong-ngomong skripsi, jadi di penghujung bulan agustus kemarin, salah satu sahabat saya sudah melewati fase pendadarannya! How faaaast. Saat disini masih belum megang apa-apa dan dia sudah pendadaran :")

So, congratulation for my dearest Karina Umma, S.Ked. Sahabat dari jaman alay, jaman friendster pake stiker bling-bling, jaman gambar tengkorak so hitz, jaman gasper converse mu yang so gede kamu beli di malioboro itu, jaman persahabatan tanpa topeng dimana kalau emang gak suka ngomong beneran. Hahaha so old year but I like it!

We proud of you!





Friday, July 8, 2016

New Chapter

This 2 weeks has so many stories to be shared. But I'll resume it after KKN has done. Before that, I'll share some pict that describe us. So introduce us as wanita soleh jekeling. Yah, soleh not soleha.

Tuesday, June 14, 2016

Monday, May 2, 2016

Kosong

Kosongnya hati kadang memang dapat membuatmu merasa jatuh, berada pada titik terendah, uring-uringan tidak karuan tanpa alasan yang jelas, kacau.
Atau kadang ada saja alasan yang entah benar atau hanya dibuat-buat saja.

Saya beberapa kali merasakan hal yang seperti ini. Entah memang dalam keadaan pms atau ya hanya merasa kacau saja.
Tidak enak rasanya, sesak. Tapi tidak ada yang bisa diajak cerita.
Bukan karena kesepian atau bagaimana, tapi tidak tahu bagaimana cara menjelaskan apa yang sedang kita rasakan.
Bagaimana mau menjelaskan, diri sendiri saja kadang tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dia rasakan.

Ternyata benar, penyebabnya adalah kekosongan hati.
Kadang manusia suka lupa, bahwa hati ini perlu ada yang mengisi.
Bukan pasangan, tapi yang selalu menemanimu setiap saat.
Ya, betul. Yang saya maksud adalah Tuhan.

Jadi, saat kamu merasa kacau, kembalilah ke Tuhan. Mengadulah pada Tuhanmu, apapun. Dia memang tak bisa kita lihat tapi dapat kita rasakan kehadiran-Nya.
Walaupun tidak secara langsung masalahmu akan selesai, tetapi ketenangan yang kamu cari akan kamu dapatkan.

Eh, nanti tiba-tiba ada aja kuasa-Nya yang menguraikan masalahmu.

Alhamdulillah.

Monday, March 7, 2016

Dewasa

Aku tidak suka berada dalam posisi ini.
Tahu, tapi hanya bisa diam.
Berpura-pura seakan tak peduli, walaupun sebenarnya batin ini meraung kesakitan.
Bermuka tebal, bertopeng, berkostum layaknya badut yang hanya bisa merasa bahagia dan lupa apa itu kesedihan.

Aku tidak mengerti, sebenarnya apa arti dewasa yang sesungguhnya.
Layakkah aku disebut dewasa?
Dengan aku yang berusaha tidak mencampuri urusan orang-orang dewasa lainnya?

Terlalu banyak perasaan yang dapat diekspresikan.
Senang, sedih, marah, kecewa, takut.
Tunggu, mengapa dari rasa-rasa itu justru lebih banyak yang tidak membuat kita nyaman?
Dan mengapa senang dan bahagia tidak dapat dibedakan?
Dan mengapa orang dewasa jauh lebih sering membuat dirinya merasa dalam kondisi yang tidak nyaman?

Ah, aku tak tahu. Aku memang belum dewasa.

Thursday, October 22, 2015

(Hampir) Tugas Akhir

*membuka lagi blog yang sawangan ini*
Hai!
Udah lama ya saya gak coret-coret di blog saya yang mungkin gak ada yang baca... *kemudian hening* *kemudian baper*
Soalnya beberapa waktu ini saya sedang pusing dengan kehidupan akademis saya, mengutip dari blog teman saya, ia mengatakan bahwa "kuliah di tekkim emang harus strong banget", nah itu sebabnya saya dah lama gak buka blog kesayangan saya ini.

Btw, saya baru aja selesai UTS semester 5 lho. Iya, semester 5. WHAT?! Semester 5?! *nada sok syok* *padahal yo dah tau lama*.
Semester ini mungkin menjadi pijakan pertama saya dalam menapaki masa-masa "mahasiswa (hampir) tingkat akhir", masa dimana saya sudah (hampir) mulai mencicipi yang namanya tugas akhir. Masa dimana saya sudah harus sadar bahwa hidup di tekkim ini sudah tak lama lagi (aamiin) dan memasuki fase baru dalam kehidupan saya yaitu bertanggungjawab atas ilmu yang telah saya timba selama saya mengenyam dunia pendidikan, ya istilahnya kerja, terus dapet jodoh, terus nikah, terus... *malah kemana-mana*.
Ya, fase itu sudah hampir ada di depan mata, dimana fase itu dulu pas masih jadi mahasiswa baru rasanya masih jauuuuh banget. Eh, gak taunya sekarang udah deket banget, huft.

"Terus, sebenernya ini apa sih yang mau dibahas?"
"Hm, mengenai tiga tugas akhir di tekkim?"
"Seru sih, tapi kayaknya udah mainstream."
"Terus?"
"Yaudah ikutin aja tulisan ini."

Gak seperti pada umumnya jurusan yang tugas akhirnya berjudul skripsi, kami, mahasiswa teknik kimia memiliki tiga tugas akhir di teknik kimia. TIGA *perlu di capslock* tugas nya adalah penelitian, kerja praktek dan perancangan pabrik kimia. Penelitian ini memakan waktu sekitar 1 tahun untuk menyelesaikannya dari pembuatan proposal, bolak balik di revisi dosen pembimbing, mulai penelitian, sampai pada akhirnya pemaparan hasil penelitian yang disebut seminar. Lalu kerja praktek yang memakan waktu bersihnya sih sekitar 1-2 bulan untuk di lapangannya, tapi waktu kotor untuk pengajuan, diseleksi, belum ntar kalau ditolak, ngajuin lagi, ntar kalau sudah selesai masih bikin laporannya. Hm, kalau dihitung-hitung memakan waktu banyak nih. Yang ketiga, gongnya adalah perancangan pabrik kimia, ini nih perbedaan "skripsi" kami dengan jurusan lain. Saat yang lain sibuk observasi, nyebar kuisoner, meneliti, kami sibuk menghitung tinggi menara distilasi, kondisi operasi pada reaktor, kecepatan fluida mengalir, fixed cost pendirian pabrik dan gaji karyawan. Luar biasa.....

Nah, di semester 5 ini saya sudah mulai sedikit menyentuh salah satunya, yaitu penelitian walaupun masih dalam tahap mendapatkan dosen pembimbing dan partner penelitian. Penentuan dua hal tadi itu juga gak serta merta "eh kamu mau gak jadi partnerku?" "Iya mau" dan yak selesai. Tidaaak. Mencari dosen pembimbing pun juga tidak sekedar "permisi Bapak, apakah Bapak mau jadi dosen pembimbing penelitian saya?" "Oh, boleh saja." Dan deal, jadi. Bukan, bukan gitu.
Untuk mencari partner ini, kita harus benar-benar selektif *ceilah selektif gaya lo*. Maksud selektif ini bukan dari kecerdasan seseorang, kemampuannya, bukan. Tapi dari kecocokan masing-masing orang juga. Karena partner ini akan bekerja bersama dalam 8 bulan-an, jadi jangan sampai ada baper di antara kita. Takutnya kalau tidak cocok bisa putus di tengah jalan dan harus mengulangi lagi penelitian dari awal dan hal itu bisa menghambat kelulusan kita, lebih susah kan daripada nyari pacar? *ups *yang ngomong ja ndak punya.
Kemudian untuk dosen pembimbing, pasti ada kan dosen favorit dan dosen yang dihindari? Padahal satu dosen hanya boleh membimbing 2 mahasiswa saja (untuk yang mulai penelitian semester 6), kalau terpaksa ya sampai 3. Terus cara penentuannya bagaimana? Ini nih yang seru, sistem kocokan. What? Kayak apa tuh?
Jadi, kami yang mau penelitian awalnya disuruh mengumpulkan formulir penelitian beserta dosen pilihan 1 dan 2. Setelah itu, pilihan kami direkap oleh Tata Usaha. Kemudian, kami dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mengetahui dosen a peminatnya berapa, dosen b berapa. Jika seorang dosen itu dipilih oleh lebih dari 2 orang nah mulailah sistem "ambil undian" terjadi. Yang menang ya dapet dosen itu, yang kalah ya.... apa boleh buat, harus mencari nama dosen baru, itupun harus menunggu nama dosen siapa yang belum dipilih atau baru membimbing 1 mahasiswa. Nah, tiap dosen mempunyai 1 judul penelitian sehingga yang mendapatkan dosen yang sama otomatis mereka menjadi partner.

"Lah, terus partnernya bisa berubah dong dari pembentukan awal?"

Yap, benar sekali! Partner yang awalnya terbentuk dan sudah deal, bisa saja lenyap hanya dalam waktu 1 menit untuk mengambil undian. Sehingga harus lagi menyesuaikan diri dengan partner yang baru, itu kalau dapetnya yang udah deket sih gak masalah, kalau dapet yang awalnya gak deket, atau malah dapet kakak angkatan? Ya, ini salah satu pembelajaran "hidden curriculum" dari tekkim, belajar menyesuaikan diri dengan siapapun kita bekerja kita harus profesional dan berusaha menyeimbangkan antara satu dengan yang lain.
Nah, itu tadi secuil kisah saya yang sebenarnya gak kalah sih pas kocokan tapi dapet partner yang salah satunya belum kenal. Do'akan ya kedepannya penelitian saya bisa lancar dan bisa segera menyelesaikan dua tugas (akhir) lainnya sebelum akhirnya officially dapet 2 huruf baru di belakang nama :)

"Karena nantinya kami yang dididik menjadi engineer ini akan bekerja dengan banyak orang dan belum tentu sesuai dengan harapan kita, sehingga perlu menyesuaikan diri dan saling menyeimbangkan."

Tuesday, June 23, 2015

Sepucuk Suratku Untuk Kalian

Teruntuk kalian,
Besar rasa terimakasih yang ingin aku ucapkan kepada kalian. Hingga kadang mulut ini membisu ketika melihat kebaikan kalian.

Besar rasa sayang yang ingin aku curahkan kepada kalian. Hingga kadang hanya ejekkan dan olokkan yang dapat aku lontarkan ketika bersama kalian.

Besar rasa hormat yang ingin aku tunjukkan kepada kalian. Hingga kadang hanya anggukkan yang bisa aku lakukan dalam setiap perjumpaan kita.

Pertemuan kita mungkin sudah diduga-duga sebelumnya. Ya, nasib dan takdir kita dalam ruangan yang sama ini membuat kita saling mengenal. Bersama kalian, awalnya terasa aneh yang sebenarnya hanya untuk mencapai pada sebuah tujuan, lucu dengan perbedaan sifat kita masing-masing. Tapi semakin kita mengenal masing-masing dari diri kita, kita mulai sadar bahwa adanya rasa nyaman yang membuat kita bertahan untuk selalu berbahagia walaupun dalam keadaan yang kurang baik. Saling menguatkan ketika ada yang lemah, mengingatkan ketika ada yang lalai, mendengar cerita baik maupun buruk.
Kita pernah sama-sama ditinggalkan, kita pernah sama-sama jatuh, kita pernah sama-sama berusaha untuk bangkit. Aku harap kesamaan ini bisa menguatkan tali yang sedang kita rangkai. Hingga akhirnya tali tersebut dapat menjadi jembatan untuk mencapai tujuan awal kita. Karena ketika tali itu putus, mungkin tujuan kita bisa tetap tercapai hanya saja tidak semudah ketika tali ini bisa kita rangkai bersama-sama.

Terimakasih untuk kekuatannya, kesediaannya dalam memberikan waktu dan pundak, kesetiaannya. Jangan pernah sungkan untuk saling mengingatkan, jangan pernah takut untuk saling bertukar pikiran, jangan pernah malu untuk berkeluh kesah. Ingatkan aku ketika aku lalai, tegur aku ketika aku mulai lupa diri, sadarkan aku ketika aku mulai berkhayal terlalu tinggi. Aku harap tidak ada yang meninggalkan maupun ditinggalkan. Karena aku sayang kalian.