Thursday, October 22, 2015

(Hampir) Tugas Akhir

*membuka lagi blog yang sawangan ini*
Hai!
Udah lama ya saya gak coret-coret di blog saya yang mungkin gak ada yang baca... *kemudian hening* *kemudian baper*
Soalnya beberapa waktu ini saya sedang pusing dengan kehidupan akademis saya, mengutip dari blog teman saya, ia mengatakan bahwa "kuliah di tekkim emang harus strong banget", nah itu sebabnya saya dah lama gak buka blog kesayangan saya ini.

Btw, saya baru aja selesai UTS semester 5 lho. Iya, semester 5. WHAT?! Semester 5?! *nada sok syok* *padahal yo dah tau lama*.
Semester ini mungkin menjadi pijakan pertama saya dalam menapaki masa-masa "mahasiswa (hampir) tingkat akhir", masa dimana saya sudah (hampir) mulai mencicipi yang namanya tugas akhir. Masa dimana saya sudah harus sadar bahwa hidup di tekkim ini sudah tak lama lagi (aamiin) dan memasuki fase baru dalam kehidupan saya yaitu bertanggungjawab atas ilmu yang telah saya timba selama saya mengenyam dunia pendidikan, ya istilahnya kerja, terus dapet jodoh, terus nikah, terus... *malah kemana-mana*.
Ya, fase itu sudah hampir ada di depan mata, dimana fase itu dulu pas masih jadi mahasiswa baru rasanya masih jauuuuh banget. Eh, gak taunya sekarang udah deket banget, huft.

"Terus, sebenernya ini apa sih yang mau dibahas?"
"Hm, mengenai tiga tugas akhir di tekkim?"
"Seru sih, tapi kayaknya udah mainstream."
"Terus?"
"Yaudah ikutin aja tulisan ini."

Gak seperti pada umumnya jurusan yang tugas akhirnya berjudul skripsi, kami, mahasiswa teknik kimia memiliki tiga tugas akhir di teknik kimia. TIGA *perlu di capslock* tugas nya adalah penelitian, kerja praktek dan perancangan pabrik kimia. Penelitian ini memakan waktu sekitar 1 tahun untuk menyelesaikannya dari pembuatan proposal, bolak balik di revisi dosen pembimbing, mulai penelitian, sampai pada akhirnya pemaparan hasil penelitian yang disebut seminar. Lalu kerja praktek yang memakan waktu bersihnya sih sekitar 1-2 bulan untuk di lapangannya, tapi waktu kotor untuk pengajuan, diseleksi, belum ntar kalau ditolak, ngajuin lagi, ntar kalau sudah selesai masih bikin laporannya. Hm, kalau dihitung-hitung memakan waktu banyak nih. Yang ketiga, gongnya adalah perancangan pabrik kimia, ini nih perbedaan "skripsi" kami dengan jurusan lain. Saat yang lain sibuk observasi, nyebar kuisoner, meneliti, kami sibuk menghitung tinggi menara distilasi, kondisi operasi pada reaktor, kecepatan fluida mengalir, fixed cost pendirian pabrik dan gaji karyawan. Luar biasa.....

Nah, di semester 5 ini saya sudah mulai sedikit menyentuh salah satunya, yaitu penelitian walaupun masih dalam tahap mendapatkan dosen pembimbing dan partner penelitian. Penentuan dua hal tadi itu juga gak serta merta "eh kamu mau gak jadi partnerku?" "Iya mau" dan yak selesai. Tidaaak. Mencari dosen pembimbing pun juga tidak sekedar "permisi Bapak, apakah Bapak mau jadi dosen pembimbing penelitian saya?" "Oh, boleh saja." Dan deal, jadi. Bukan, bukan gitu.
Untuk mencari partner ini, kita harus benar-benar selektif *ceilah selektif gaya lo*. Maksud selektif ini bukan dari kecerdasan seseorang, kemampuannya, bukan. Tapi dari kecocokan masing-masing orang juga. Karena partner ini akan bekerja bersama dalam 8 bulan-an, jadi jangan sampai ada baper di antara kita. Takutnya kalau tidak cocok bisa putus di tengah jalan dan harus mengulangi lagi penelitian dari awal dan hal itu bisa menghambat kelulusan kita, lebih susah kan daripada nyari pacar? *ups *yang ngomong ja ndak punya.
Kemudian untuk dosen pembimbing, pasti ada kan dosen favorit dan dosen yang dihindari? Padahal satu dosen hanya boleh membimbing 2 mahasiswa saja (untuk yang mulai penelitian semester 6), kalau terpaksa ya sampai 3. Terus cara penentuannya bagaimana? Ini nih yang seru, sistem kocokan. What? Kayak apa tuh?
Jadi, kami yang mau penelitian awalnya disuruh mengumpulkan formulir penelitian beserta dosen pilihan 1 dan 2. Setelah itu, pilihan kami direkap oleh Tata Usaha. Kemudian, kami dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mengetahui dosen a peminatnya berapa, dosen b berapa. Jika seorang dosen itu dipilih oleh lebih dari 2 orang nah mulailah sistem "ambil undian" terjadi. Yang menang ya dapet dosen itu, yang kalah ya.... apa boleh buat, harus mencari nama dosen baru, itupun harus menunggu nama dosen siapa yang belum dipilih atau baru membimbing 1 mahasiswa. Nah, tiap dosen mempunyai 1 judul penelitian sehingga yang mendapatkan dosen yang sama otomatis mereka menjadi partner.

"Lah, terus partnernya bisa berubah dong dari pembentukan awal?"

Yap, benar sekali! Partner yang awalnya terbentuk dan sudah deal, bisa saja lenyap hanya dalam waktu 1 menit untuk mengambil undian. Sehingga harus lagi menyesuaikan diri dengan partner yang baru, itu kalau dapetnya yang udah deket sih gak masalah, kalau dapet yang awalnya gak deket, atau malah dapet kakak angkatan? Ya, ini salah satu pembelajaran "hidden curriculum" dari tekkim, belajar menyesuaikan diri dengan siapapun kita bekerja kita harus profesional dan berusaha menyeimbangkan antara satu dengan yang lain.
Nah, itu tadi secuil kisah saya yang sebenarnya gak kalah sih pas kocokan tapi dapet partner yang salah satunya belum kenal. Do'akan ya kedepannya penelitian saya bisa lancar dan bisa segera menyelesaikan dua tugas (akhir) lainnya sebelum akhirnya officially dapet 2 huruf baru di belakang nama :)

"Karena nantinya kami yang dididik menjadi engineer ini akan bekerja dengan banyak orang dan belum tentu sesuai dengan harapan kita, sehingga perlu menyesuaikan diri dan saling menyeimbangkan."

Tuesday, June 23, 2015

Sepucuk Suratku Untuk Kalian

Teruntuk kalian,
Besar rasa terimakasih yang ingin aku ucapkan kepada kalian. Hingga kadang mulut ini membisu ketika melihat kebaikan kalian.

Besar rasa sayang yang ingin aku curahkan kepada kalian. Hingga kadang hanya ejekkan dan olokkan yang dapat aku lontarkan ketika bersama kalian.

Besar rasa hormat yang ingin aku tunjukkan kepada kalian. Hingga kadang hanya anggukkan yang bisa aku lakukan dalam setiap perjumpaan kita.

Pertemuan kita mungkin sudah diduga-duga sebelumnya. Ya, nasib dan takdir kita dalam ruangan yang sama ini membuat kita saling mengenal. Bersama kalian, awalnya terasa aneh yang sebenarnya hanya untuk mencapai pada sebuah tujuan, lucu dengan perbedaan sifat kita masing-masing. Tapi semakin kita mengenal masing-masing dari diri kita, kita mulai sadar bahwa adanya rasa nyaman yang membuat kita bertahan untuk selalu berbahagia walaupun dalam keadaan yang kurang baik. Saling menguatkan ketika ada yang lemah, mengingatkan ketika ada yang lalai, mendengar cerita baik maupun buruk.
Kita pernah sama-sama ditinggalkan, kita pernah sama-sama jatuh, kita pernah sama-sama berusaha untuk bangkit. Aku harap kesamaan ini bisa menguatkan tali yang sedang kita rangkai. Hingga akhirnya tali tersebut dapat menjadi jembatan untuk mencapai tujuan awal kita. Karena ketika tali itu putus, mungkin tujuan kita bisa tetap tercapai hanya saja tidak semudah ketika tali ini bisa kita rangkai bersama-sama.

Terimakasih untuk kekuatannya, kesediaannya dalam memberikan waktu dan pundak, kesetiaannya. Jangan pernah sungkan untuk saling mengingatkan, jangan pernah takut untuk saling bertukar pikiran, jangan pernah malu untuk berkeluh kesah. Ingatkan aku ketika aku lalai, tegur aku ketika aku mulai lupa diri, sadarkan aku ketika aku mulai berkhayal terlalu tinggi. Aku harap tidak ada yang meninggalkan maupun ditinggalkan. Karena aku sayang kalian.

Wednesday, April 1, 2015

Tahu Diri?

Aku menemukan sosoknya yang baru. Ya, di dalam tubuh yang baru juga. Hai kamu, apakah kamu pernah mengenal sosoknya yang sempat membuat aku terhenti sejenak dalam naungan kebahagiaan saat bersamanya? Percayakah kamu bahwa kehadiranmu bukan hanya sebatas membuatku lupa tetapi akhirnya melupa?

Ah, tapi aku tahu diri kok. Aku hanya sebatas mengagumimu. Tidak lebih, tidak kurang. Walaupun aku sempat khawatir dengan rasa ini, tapi aku mencoba menyadarkan aku.

Tidak, aku sadar kamu bukan dia yang pernah menerima titik lemahku. Kamu tetaplah kamu walaupun kamu dan dirinya serupa, tapi kalian tetaplah individu yang berbeda. Aku yang memaksakan kehendakku untuk membuat kalian terlihat sama. Hal konyol yang tidak perlu untuk aku lakukan.

Iya, aku tahu diri kok.

Wednesday, March 25, 2015

Aku tak sempat berfikir resiko apa yang harus aku tanggung. Aku mencoba hal yang baru. Terlalu baru, mungkin. Dan mungkin aku terlalu dini untuk mengambil keputusan ini. Keputusan yang tidaklah berat, tetapi sedikit berpengaruh dalam kehidupanku. Keputusan yang berada pada tekanan dari lingkungan sekitar. Karena aku sudah dalam keadaan jenuh dengan tekanan tersebut.
Terlalu bodoh? Tidak. Aku hanya mencoba. Salahkah? Ya, kesalahan ada pada hal baru yang aku paksakan. Tapi aku sudah terlanjur. Mau dikata apa? Mencoba memperbaiki tapi bekasnya masih ada.
Maafkan egoku, dia yang membuat semua harus merasakan ini.
Tapi, terimakasih harapku, walaupun kau sempat menjatuhkanku tapi kau berhasil menaruhku dalam kesempatan baru.

Wednesday, February 18, 2015

Part of us, differencies

Selamat malam, hai inspirasi.
Malam ini indah bukan? Ya, indah seperti hari-hari biasanya, terutama saat bersamamu.
Tetapi hari ini ada yang berbeda. Hari dimana aku mulai memutuskan sesuatu. Mungkin bukan keputusan yang besar, tetapi aku yakin keputusan ini akan merubah gaya kita, gaya kebersamaan kita selama ini.
Selama mengenalmu, aku tidak pernah berpikir untuk menempatkanmu di kotak yang besar dalam ruang pikirku. Karena aku tahu kita berbeda. Sejujurnya, dari awal pun aku ragu. Tapi kau meyakinkanku. Haruskah aku berterimakasih akan hal itu?
Dan ketakutanku terbukti. Bagaimana bisa kamu menciptakan rasa itu? Rasa yang sangat tidak ingin aku miliki. Membencimu? Itu tidak mungkin karena aku sudah terperangkap dalam rasa nyaman.
Menjadikanmu sebagianku adalah hal yang tidak mungkin aku lakukan karena sekali lagi aku tahu kita berbeda. Aku tidak mau terlalu naif untuk mendobrak pintu perbedaan kita. Jangankan mendobrak, mengetuk dan melangkah sejengkal pun aku tak mau. Maafkan aku yang terkesan tidak menghargai rasa ini. Tapi ini soal prinsip dan aku tahu kamu pun tahu.
Bagiku, perbedaan yang kita miliki tercipta agar kita saling menghargai tapi bukan untuk dipersatukan. Aku percaya suatu saat kita akan memiliki titik akhir yang sama, aku dan kamu tetap akan menjadi tokoh utama dari cerita ini walaupun akan ada pemeran pengganti yang sudah Tuhan buat jalan ceritanya untuk masing-masing dari kita.

Tuesday, February 3, 2015

Vacation?

Dalam suatu akun instagram, saya pernah mendapati foto atau meme yang bertuliskan "my goal is to build a life I don't need a vacation from".

Tau artinya? Kalau dari caption foto itu sih terkesan "menyalahkan" orang-orang yang ketika bekerja lalu berkata "need an escape" dan orang-orang yang kembali bekerja setelah berlibur lalu berkata "back to reality". Pada caption itu juga mengatakan bahwa orang-orang tersebut bekerja pada hal yang tidak sesuai dengan passion nya. Well, saya punya pandangan tersendiri tentang hal itu.

Saya menyukai liburan, sangat menyukai hal tersebut. Saya anak kuliah. Saya juga merasa saya kuliah di jurusan yang mungkin sesuai dengan passion saya. Tapi setiap orang selalu ingin memiliki waktu untuk keluar dari rutinitas kehidupannya. Seperti saya contohnya, kehidupan saya adalah bangun-kuliah-tugas-rapat-tidur-bangun lagi dan begitulah seterusnya sampai pusing. Rutinitas saya pun saya lalui dengan bahagia (yakin?). Namun ada kalanya saya juga ingin keluar dari rutinitas saya sejenak untuk merefresh kembali otak saya, karena ketika kita memforsir otak, badan, pikiran kita dalam tuntutan rutinitas itu tanpa merefresh lagi hasil dari rutinitas tersebut tidak akan maksimal. Maka dari itu mengapa kita memiliki hari libur, karena kita juga butuh keluar dari rutinitas kita dan menggunakan waktu liburan kita untuk melakukan hal-hal yang pada hari biasa kita tidak dapat melakukannya.

Well, for me vacation is needed. So, manage our time to give a few times to have a vacation.

Thursday, January 8, 2015

3rd Semester!!

Wuwuwuw, it’s officially over guys!
A semester that put me on my highest level of scared because many seniors say this semester is one of ‘lingkaran setan tekim’.
A semester that has many deadline on it!
A semester that teach me not to be a procastinator.
A semester that has the same love story as before *since I declared myself as a single happy* mumumu :3
A semester that has many difficult subjects and I don’t know how to stand by them.
A semester that force me to become stronger and forget about the past.
A semester that force me to study harder, even I only study on a few minutes before the exam *deadliner detected*
Thanks for 3rd semester! Now, what I can do is just pray to God for the best score while enjoy my holiday :))