Tuesday, January 31, 2012

Ketika itu...

Ketika itu,
Awal mula cerita yang sudah berujung lama itu dimulai.
Ketika itu, aku duduk di kursi biasa. Bukan kursi favorit, bukan juga kursi kenangan. Kursi yang biasa saja. Dan pemandangannya juga biasa. Datar. Di saat itu, aku tak tertarik denganmu. Sosok yang tidak pernah melongok dan menyapa "hai" padaku. Dan, orang yang jauh dari kata spesial untukku.

Tapi ketika itu pula, aku mendengar namaku dipanggil, entah saat itu musik yang mengalun di telingaku terlalu nyaman untuk kutinggalkan sejenak. Atau mungkin karena suara itu terlalu lirih agar dapat didengar. Tetapi sekali lagi, kudengar suara itu memanggil namaku. Aku menengok. Mencoba memastikan. Dan hasilnya, nihil.

Hari berikutnya,
Ada orang yang telah menggunakan kursi itu. Kursi yang kugunakan sebelumnya. Tetapi aku diam, mencoba menghela nafas. Rasanya terlalu bodoh jika aku memulai perkelahian hanya karena sebuah kursi. Tetapi dia, dia yang menggunakan kursi itu melambaikan tangannya ke arahku. Entah siapa dan apa yang mendorongku untuk mendekat. Ya, kita dekat sekarang. Kamu mencoba memperkenalkan namamu dengan gayamu. Tidak konyol. Tidak manis. Bahkan terkesan kaku. Dan kamu, dengan celanamu yang kombor dan longgar, terlihat seperti orang jaman dahulu. Perutmu yang buncit, hidungmu yang mancung. Kamu jauh dari kata keren.

Lalu hari demi hari kulewati. Tidak denganmu, tetapi dengan sapaanmu. Tidak ramah. Tetapi sangat membekas. Kamu, juga sering bercerita tentang hal-hal yang kuanggap kolot. Tetapi entahlah, aku malah tertarik. Dengan segudang kekurangan dan kelebihanmu, aku mulai tertarik. Hal-hal yang kamu anggap menyenangkan lama-lama aku juga bisa menyukainya. Kamu tertawa, aku juga. "Jadi, apa yang sekarang kita permasalahkan? Hubungan? Status?" Sampai sekarang, aku belum menemukan jawabannya.

Semakin hari, kita semakin dekat. Tidak hanya sebagai teman, tapi sebagai sahabat, katamu. Aku menerima keadaan itu sebagai kuasa Tuhan yang tidak ingin melihatku sendiri. Kita tertawa, bercanda, kadang aku menangis, dan kamu yang bisa membuat senyum terkembang lagi di wajahku. Aku, kamu dan kebahagiaan. Itulah kita. Semakin hari, semakin indah.

Dan suatu saat, ketika aku sedang menikmati indahnya perjalanan. Kamu yang menemaniku. Walau kau tak ada disitu. Tidak duduk denganku, tapi aku tau, kau menemaniku. Kita bercanda melalui alat komunikasi.

Tetapi tiba-tiba entah karena salah bicara atau salah cara menyampaikan. Kamu berkata agar aku menjadi apa yang kamu inginkan. Mungkin itu maksud dari yang kamu sampaikan ketika itu. Dan aku menjawab dengan manis bahwa aku adalah aku, aku hanya ingin menjadi diri sendiri. Aku tidak berminat untuk menjadi orang lain. Saat itu, kamu tersinggung dengan perkataanku. Ya, mungkin apa yang kamu inginkan agar aku menjadi lebih baik lagi. Akhirnya kita terlibat perang kata dan kalimat yang bisa dibilang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Kamu, yang kukira dapat menerimaku apa adanya, mencoba mempertahankan keinginan itu. Tapi aku?

Dan aku menangis, tangisan yang tak dapat kau sembuhkan karena kali ini penyebabnya adalah kamu! Pada akhirnya aku yang kalah. Aku menyerah bukan karena aku takut kamu, tapi aku takut kehilangan apa yang sempat membuatku tersenyum. Tetapi kamu tak mau lagi memerima kata maaf dariku. "Kenapa kamu searogan itu?" batinku. Dan hari berikutnya kamu berkata bahwa kamu ingin semua itu berakhir. Ya, semuanya. Kebahagiaan, persahabatan, cinta, cita, dan kasih. Semuanya. Semudah itukah kamu mengakhirinya? Aku, yang dalam posisi lemah hanya tertunduk diam dan lesu. Berharap suatu saat kamu akan menarik kata-katamu itu. Ternyata tidak. Sampai sekarang, ketika kamu sudah jauh lebih tidak kolot dari pertama kita bertemu.

Sunday, January 29, 2012

Kamu dan kelakuanmu

Pertama
Pertama aku mengenalmu. Pertama aku melihatmu. Pertama aku menyapamu. Pertama aku tersenyum ke arahmu
Ketika itu, kulihat kamu yang polos dan lugu. Dengan sedikit wajah 'bego' tersirat dari raut mukamu. Aneh memang untuk pertama ini

Kedua
Lagi lagi, untuk kedua kalinya aku melihatmu, kedua kalinya aku menyapamu, kedua kalinya aku tersenyum ke arahmu. Walaupun untuk pertama kalinya kamu membalas semua itu
Ketika itu, tak ku lihat wajah yang liar dan nakal seperti teman-teman sebayamu. Kamu tertunduk malu dan membisu, seakan-akan kamu adalah orang yang "baru" di bumi ini. Seakan-akan bumi ini asing untukmu. Adakah yang salah? Kurasa iya. Rasa penasaranku lah yang membuat keadaan itu 'salah' di mataku

Ketiga
Tak kurasa kejenuhan ketika aku 'harus' berulang-ulang melakukan hal itu, menyapa, tersenyum ke arahmu dan melihatmu
Disaat itu pula, ada secercah jawaban dari rasa penasaranku. Ya, mungkin sampai waktu itu aku belum bisa menerima keadaanmu yang seperti itu. Kamu berbeda. Berbeda dari yang lain. Salahkah aku menilaimu seperti itu? Ketika itu mungkin jawabannya adalah 'tidak'

Keempat
Dan aku bergejolak. Tiba-tiba semua itu menemui jawabannya. Apa yang aku pikirkan saat itu
Pertanyaan demi pertanyaan yang sempat memenuhi otakku akhirnya terjawab. Dan aku sudah bisa menganggapmu tidak aneh. Walaupun aku tetap memandangmu 'berbeda' dari yang lain

Kelima hingga ke sekian kalinya
Mungkin tak semua hal yang aku lakukan dari pertama hingga keempat aku lakukan juga disini. Tetapi ada tambahan, aku mulai mencoba mengenalmu
Dan entahlah, semua itu terjadi begitu cepat. Semua pertanyaan, keingintahuan, rasa penasaran yang sempat merasuki otakku. Perlahan sirna dan hilang. Aku mencoba menerima kelebihan dan kekuranganmu. Mungkin, aku terlalu bodoh untuk mengatakan 'ya, aku suka gayamu'. Tapi, itulah yang ketika itu merasuki dan meracuni otakku

Ke seratus atau mungkin lebih
Dan keadaannya sudah berbeda dari yang dulu. Ketika aku merasa sangat jauh berbeda darimu. Saat aku merasa tidak akan bisa menjalin pertemanan denganmu. Semua itu musnah! Kamu berubah, tidak lagi kamu yang diam. Tak ada lagi kamu yang malu. Hanya ada kamu yang selalu membuatku terbahak-bahak
Tetapi saat itu juga, aku mulai merasa kehilanganmu. Kehilangan kamu yang selalu membuatku penasaran. Kehilanganmu yang dulu selalu mau dan patuh apa yang 'mama' suruh. Apa yang 'mama' mau. Miris, ya. Melihatmu yang mulai liar tanpa kendali. Melihatmu yang seakan-akan berkata pada mamamu 'Ini mah, anakmu. Udah gede Mah! Udah gak kayak bayi lagi, udah gak bisa mamah suruh-suruh lagi'
Kamu B-E-R-U-B-A-H! Kamu mulai berani berbohong, ingkar, menentang kepada 'mama'mu sendiri! Aku tak tau, apakah karena pola pikirmu yang berubah, atau karena lingkungan?
Dan saat ini juga, aku menangis melihat keadaanmu. Kamu yang terlalu besar derajat perubahannya. Kamu yang mulai merajut hitam untuk hidupmu. Tapi, apa dayalah aku. Aku bukan siapa-siapa. Aku tak berani menegur kesalahanmu. Aku tak berani menceritakan kekecewaanku. Hanya rasa bersalah yang kupendam karena tak berhasil merubahmu menjadi seperti waktu pertama
Maafkan aku, aku tak berhasil mencegahmu masuk ke lubang hitam itu. Tapi, aku yakin suatu saat pasti akan ada yang bisa menolongmu dari lubang hitam itu. Dan akan merubahmu menjadi kamu yang putih, seputih kapas. Aku yakin :')

Azizah N I

Aku, kamu dan mereka

Awalnya aku hanya mencoba memandangi, tak berani mendekat. Mengucap sepatah kata? Itu bisa jadi rekor. Ya, karena memang waktu itu tak ada niat untuk mengenalmu lebih jauh. Hanya sebatas tahu dan sapa

Tetapi entah apa dan siapa yang merasuki waktu itu, aku mencoba mengenalmu. Ya, kamu memang indah waktu itu. Sepatah kata 'hai' aku ucapkan. Dan kau balas dengan kata yang sama. Entah waktu itu kemana aku melayang. Gravitasi bumi tak mampu menahanku. Aku terbang. Ah, mungkin berlebihan untuk saat ini

Dan aku mulai mengenalmu lebih dalam, mungkin apa yang kamu pikirkan juga sama. Dan perlahan, kau mulai menjadi separuh dariku. Kalau kata anang&syahrini separuh jiwaku. Tapi sekali lagi, aku berlebihan

Bak penyair yang dimabuk asmara, aku mulai mengukir kata-kata indah untuk menggambarkan kamu yang indah pula. Dan waktu itu aku bagai kecanduan. Entahlah, aku tak sadar dengan apa yang aku katakan waktu itu. Aku menggambarkan kamu yang seperti apa yang aku inginkan. Dan aku berlebihan

Ketika itu, semua berubah. Berubah seperti di negeri dongeng Beauty&The Beast. Atau Cinderella? Yah, semacam itulah. Dan entahlah, aku selalu berlebihan

Tapi sayang, ending nya gak sebagus dongeng-dongeng itu. Gak setragis dongeng itu. Open ending. Gak tau kemana tujuannya

Waktu itu, aku tak tau. Ternyata ada wanita lain yang mencoba merebut nafasku. Atau aku yang terlalu bodoh untuk mengatakan 'dia lah yang salah, dan aku yang benar'

Dan semua berubah, seperti reality show. Atau FTV? Semacam itulah, aku belum bisa menggambarkannya
Dan satu hal yang aku inginkan,

KETENANGAN...

Sesuatu yang hilang

Ada apa denganmu? Anganmu? Mimpimu? Cita-citamu?
Apakah kamu kehilangan semangatmu?
Semangat yang pernah kau banggakan itu?
Semangat yang pernah membuatku berdecak kagum, bangga sekaligus terharu terhadapmu?
Semangat yang aku tau pasti ada di dirimu?
Atau ada hal lain yang kamu rasa hilang?
Cinta?
Kasih sayang?
Persahabatan?
Kebersamaan?
Apa hal itu yang membuatmu menangis? Merasa tak berguna?
Jangan bersedih sayang, tak terbesitkah di fikiranmu jika kamu harus kehilangan semangatmu?
Semua musnah. Tanpa semangatmu
Cita, cinta, harapan MATI tanpa semangatmu
Kasih sayang dari siapapun takkan ada lagi
Dan hidupmu? Mungkin takkan ada artinya lagi
Aku tau, aku tau gimana rasanya kehilangan semua itu
Sakit bukan?
Tapi lebih sakit lagi jika kamu harus kehilangan semangatmu, sayang
Hidupmu masih panjang, masih banyak yang harus kau capai
Mungkin sekarang kamu HARUS tabah dan sabar menerima kekalahanmu
Tapi tak perlu kau larut dalam kesedihanmu
BANGKIT!
Jangan jadikan itu semua alasan untuk kamu patah semangat
Justru kamu harus ambil hikmah dan semakin kuat
Kokoh mendirikan benteng pertahanan untuk dirimu sendiri
Jangan kau perdulikan kata mereka
Jangan kau perdulikan keadaanmu sekarang
Tatap apa yang akan kau dapatkan kedepannya, dengan semangatmu
Aku tau kamu bisa :')

Sunday, January 22, 2012

R.I.P

This is not about the death. It's not about someone who had passed away. It's about us, RIP! Rest In Peace.

REST in Peace
Republic of Science Three

Pertama dan sekilas nih ya, ngeliat mereka. Sangar-sangar men! Sekelas isinya kok orang pinter semua, bikin minder wae -_-
Semakin hari ya semakin menyenangkan. Nggak cuma pinter akademik men! Mereka juga pinter mbanyol, nglucu, bikin ngakak, yang terpenting kita kompak kalo lagi nggosip (as dita said) tapi tetep kok mereka menyenangkan. Gosipnya tidak murahan cuy! Dan seenggaknya nggak ada hasut menghasut *malah curhat -_-
Aku seneng punya mereka, aku seneng ada di antara mereka. Apalagi kemarin waktu drama. Serius deh! Konyol abis! Ada yang cowok jadi cewek lah, yang ini lah itu lah. Dan entahlah, seneng aja gitu bisa rame-rame ngapain sama mereka. Seneng lah intinya. Thanks all! You're awesome :D
 Sincerely,

Azizah Nur Istiadzah

Saturday, January 14, 2012

Thanks God it's FRIDAY! :D

Awalnya hari Jum'at diawali dengan hal-hal yang biasa aja. Standaaar. Tidak terlalu berbeda dengan biasanya. PM, pelajaran, pulang. Tapi pas mau pulang ada temen yang dia gak tau kenapa ngotot banget biar aku ngikutin wawancara. Ya udahlah, mungkin bisa mencoba peruntungan. Selesai wawancara aku pulang, sebelumnya aku udah janjian sama kakakku yang satu itu buat latihan. Tapi dianya asik nge-wall. Dan dia memberi isyarat untuk berangkat telat. Nyampe tempat latihan rasanya seneng ngelihatnya. Banyaaaak banget yang dateng. Kakak-kakakku banyak banget :D Waktu latihan pun terasa cepat. Disitu aku ngeliat sosok Mas Budi yang beda dari pandanganku. Awalnya ngeliat dia itu pendiem, kalem, tegas. Eh ternyata lekong juga -_- Tapi tetep asik kok. Asik banget malah. Pas selesai latihan aku diajak makan di foodcourt. Tapi sayang, pas mau makan foodcourtnya udah tutup. Nyebai -_- Akhirnya cari tempat makan lain di sekitar sana. Aku sih bukan masalah makannya ya, tapi kebersamaannya itu lho yang bikin aku kagum. Mereka nerima aku dengan tangan terbuka. SENENG BANGET. Mereka yang bener-bener ngemong aku. Ya maklumlah disitu aku paling muda sendiri. Dan disitu aku ngerasain kehangatan kekeluargaan. Nyampe jam 9nan aku bareng mereka. Thanks ya mas&mbak :D

Friday, January 6, 2012

UGM, 06 Januari 2012

Disini, ya disini. Aku punya sedikit cerita. Mungkin bagi sebagian orang ini tidaklah istimewa, tapi bagiku? Ini jauh lebih hangat dari segelas kopi panas. Pukul 16:00, menunggu short message service dari kakakku yang satu itu. Tapi... dia tak membalas. Oke, aku pancal! 16:30 sampailah aku di tempat itu. UGM. Aku mengikuti kegiatan yang memang sudah lama aku geluti disana. Sahabat-sahabat baruku disana, banyak ya :D Mereka dengan senyum lebar&tangan terbuka menyambutku yang mungkin masih sedikit asing untuk mereka. Termasuk dalam suatu kebahagiaan kecil dari hidupku. Pukul 19:16, mereka mengajakku membicarakan sesuatu. Mungkin obrolan ini sangat penting bagi mereka, dan seharusnya tidak ada aku. Tapi mereka memaksaku ikut. Apa boleh buat? Adaptasi namanya. Dan disitu aku benar-benar merasakan kekeluargaan itu lagi. Yang aku rindukan. Walaupun dengan orang-orang yang berbeda. Tapi buatku mereka tetap T-O-P. Anyway, thanks for today Mr. I&E. Ms. S,A,T&H. All of you made my day today :))

Sekedar sharing

Blog baru :D Mungkin disini aku jauh dari blog-blog bagus tempat temen-temenku. Tapi disini aku cuma mau sharing. Bukan buat adu blog atau semacamnya. Hanya untuk hiburan&hobi. Bukan untuk kebiasaan. Enjoy this!